Rumah Adat Takpala di Alor | bandatourism


Takpala berasal dari dua (2) kata yaitu, Tak yang berarti ada batasnya, sedangkan Pala artinya Kayu. Jadi Takpala berarti Kayu pembatas. Selain itu Takpala juga mempunyai arti kayu Pemukul. Takpala sendiri berasal dari Suku Abui merupakan suku terbesar di Alor, yang biasa disebut juga Tak Abui, dan yang mempunyai arti Gunung Besar. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan berburu. 


Makanan aslinya adalah singkong dan jagung, walaupun ada nasi tetap saja harus ada singkong dan jagung. Atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Alor yaitu Katemak. Kampung Takpala awalnya berasal dari pedalaman gunung Alor tapi dipindahkan kebawah. Mengapa sampai dipindahkan kebawah, hal ini berhubungan erat dengan tradisi Balsem yaitu kewajiban membayar pajak kepada Raja Alor. Dimana si pemungut pajak kesulitan untuk menjangkau kampung tersebut, akhirnya dipindahkan kebawah. Dan yang berjasa memindahkan Kampung tersebut adalah Bapak Alm. Piter kafilkae, dimana beliau menghibahkan tanahnya untuk di jadikan Kampung Takpala yang sekarang ini. Hal ini terjadi pada tahun 1940an.Letak kampung Takpala yang sekarang ini berada di Desa Lembur barat, kecamatan Alor barat laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur dengan jumlah penduduk 800.

Menurut Martinus Kafilkae yang merupakan anak dari Bapak Piter Kafilkae, orang asing yang pertama datang ke kampung tersebut adalah orang Belanda pada tahun 1973 yang bernama Ferry. 

Dia membuat foto-foto untuk dibuat kalender dan mempromosikan bahwa di Alor ada kampung primitif. Sejak itu kampung Takpala dikenal orang asing, terutama orang Belanda. Ditambah lagi pada tahun 1980 di adakan acara dari desa ke desa, dimana saat itu Kampung Takpala menjadi juara 2 tingkat Nasional untuk dearah yang paling Tradisional. Akhirnya pada tahun 1983 Departemen Pariwisata menjadikan Kampung Takpala menjadi andalan pariwisata di Alor.


Andalan pariwisata dari kampung Takpala adalah Rumah adat Takpala. Rumah adat ini berupa rumah panggung dan berbentuk seperti piramida. Rumah adat di Takpala ada 2 macam, yaitu Kolwat yang mempunyai arti Perempuan dan Kanuarwat yang mempunyai arti laki-laki. Masih menurut Pak Martinus, masyarakat Takpala mengklaim bahwa merekalah yang pertama kali membuat rumah bertingkat 4 didunia. Dimana masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Dimana lantai 1 adalah tempat rapat, lantai 2 tempat tidur dan masak, lantai 3 tempat menyimpan makanan dan lantai 4 untuk menyimpan barang-barang pusaka yang akan dipakai jika ada kegiataan adat.   

Selain itu Kampung Takpala memiliki banyak sekali tradisi, diantaranya adalah masuk kebun atau Potong kebun, Potong kebun dilakukan pada bulan oktober, dimana kayu-kayu besar diturunkan dan terus dibakar sampai dengan bulan november. Lalu pada bulan Desember mulai tanam. Pada Desember akhir sampai Januari acara cabut rumput yang pertama, sedangkan cabut rumput yang kedua bulan maret-April dimana jagung mulai menguning, dan di bulan Mei sudah patah jagung. Pada tanggal 20 Juni Dimana saat itu ada acara masuk kebun dimulai dan dimulai dengan potong hewan.


by aci.detik.travel